May 15, 2011

Puisi Cinta Kahlil Gibran ''Cinta (III)''

CINTA (III)




Kemarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat

dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ

tentang misteri dan kesucian cinta.

Seorang lelaki setengah baya menghampiri,

tubuhnya rapuh wajahnya gelap.

Sambil mengeluh dia berkata,

"Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama."

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri.

Dengan suara bagai menyanyi dia berkata,

"Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang ditumbuhkan dariku, yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang."

Seorang wanita dengan wajah melankolis menghampiri

dan sambil mendesah, dia berkata,

"Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa yang menderita di neraka,

terbang melayang dan berputar-putar menembusi langit sampai ia jatuh tertutup embun,

ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus.

Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat,

diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya."

Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri

dan dengan tersenyum dia berkata,

"Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin

sebagai siraman ke dalam roh orang- orang yg kuat,

membuat mereka bangkit dalam doa

di antara bintang-bintang di malam hari

dan senandung pujian di depan matahari di siang hari."

Setelah itu seorang lelaki menghampiri.

Bajunya hitam,

janggutnya panjang dengan dahi berkerut,

dia berkata,

"Cinta adalah ketidakpedulian yang buta.

la bermula dari hujung masa muda

dan berakhir pada pangkal masa muda."

Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar

dan dengan bahagia berkata,

"Cinta adalah pengetahuan syurgawi yang menyalakan mata kita.

Ia menunjukkan segala sesuatu kepada kita seperti para dewa melihatnya."

Seorang bermata buta menghampiri,

sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah

dan dia kemudian berkata sambil menangis,

"Cinta adalah kabus tebal yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya

atau yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang,

tuli terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema di lembahlembah."

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri

dan menyanyi,

"Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar

dari kedalaman kehidupan yang peka

dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya.

Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah perarakan

yang berjalan melewati padang rumput hijau.

Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah

yang diangkat dari kesedaran dan kesedaran."

Seorang lelaki dengan badan bongkok

dan kakinya bengkok bagai potongan-potongan kain menghampiri.

Dengan suara bergetar, dia berkata,

"Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam,

kedamaian bagi jiwa dalam kedalaman keabadian."

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri

dan sambil tertawa dia berkata,

"Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku.

Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta."

Waktu terus berjalan.

Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat.

Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta.

Semua menyatakan harapan-harapannya

dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.




(Oleh : Khalil Gibran)



Baca Terkait Lainnya..

0 comments:

Post a Comment

Share This Blog
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design By: D'lovelizzers